Tangerang Selatan, IDN Times - Di salah satu bangunan berdinding kayu berlapis kardus, plastik terpal, dan beratap seng, sebuah televisi menyala tanpa ada yang menyaksikan di depannya.
Di dalam televisi, pada Jumat (16/8) itu, orang-orang berpakaian dan duduk rapi di suatu ruangan besar. Mereka saling mendengarkan pidatonya masing-masing. Di rumah itu, ternyata si empunya sedang sibuk memilah plastik yang lebih tepat disebut sampah, aset kekayaannya, untuk nanti di jual ke penggilingan biji plastik di wilayah Jakarta Barat.
Pemilik rumah yang terletak di kawasan Bintaro, Pondok Aren, Tangerang Selatan itu adalah Acang, pria bersahaja yang baru kenal saja langsung bercerita banyak hal. Salah satu kisahnya, tentang usaha dia.
Sudah hampir 5 tahun Acang (55) merasakan penurunan laba usahanya. Barang-barang berbahan plastik yang pada 2014 lalu sempat mencapai harga Rp18 ribu, kini nyungsep di harga Rp15 ribu.
Akibatnya, banyak rekan-rekan Acang yang menghuni kampung pemulung yang berdiri di atas lahan kosong milik PT. Jaya Properti atau yang jamak dikenal sebagai Bintaro Jaya, terpaksa pulang kampung atau pergi mencari mata pencarian lain.
Para pengais rezeki di atas tumpukan sampah itu tersenyum getir, menyaksikan harga plastik bekas yang mereka kais dari lokasi-lokasi pembuangan sampah di Tangerang Selatan, terjun bebas 3 kali lipat dari harga standar.
