Pelajar Muslim Papua Desak Kasus Ujaran Rasis di Jatim Segera Diusut

Tangerang Selatan, IDN Times - Komunitas Santri Pelajar dan Mahasiswa Muslim (Kosapmaja) Ciputat, Tangerang Selatan (Tangsel) menuntut kasus ujaran rasis yang memicu kerusuhan di tanah Papua diinvestigasi.
Selain itu, mereka juga meminta hak kebebasan ruang demokrasi, yang kini mereka rasa selalu dicurigai.
1. Aparat dan ormas batasi diskusi pelajar Papua

Fajar Cuan, Sekretaris Kosapmaja mengatakan, selama ini para pelajar Papua yang ada di Ciputat, Banten, ketika ingin berdiskusi selalu dicurigai, bahkan dituduh disintegrasi
"Kita ingin diberi kebebasan hak kepada mahasiswa Papua agar bisa bebas berekspresi, selama ini sulit mau berdiskusi aja langsung digerebek ormas," kata Fajar, Senin (19/8).
"Kita mau diskusi soal Papua, pembangunan di Papua langsung dicap sebagai gerakan disintegrasi," tambahnya.
2. Semakin dibatasi semakin resisten

Fajar menyebut, selama ini para pelajar Papua merasa dibatasi dalam ruang ekspresinya.
"Yang sangat kita prihatinkan itu adalah negara ini terlalu membatasi ruang berekspresi kita. Semakin dibatasi kita semakin resisten," kata Fajar
3. Kosapmaja desak kasus rasisme di Surabaya segera diselidiki

Dalam kesempatan itu, mewakili Kosapmaja, Fajar menuntut agar aparat penegak hukum segera mengusut kasus ujaran rasis di Jawa Timur (Jatim).
"Kami ingin negara membuka ruang ekspresi kepada mahasiswa Papua. Kami ingin negara segera menyelidiki pelaku penggunaan kata rasisme di Surabaya," ujarnya.
4. Kosapmaja Ciputat adalah mahasiswa Papua di UIN dan UMJ

Perlu diketahui, Kosapmaja Ciputat merupakan organisasi pelajar muslim Papua yang banyak kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Muhamadiyah Jakarta (UMJ).
