Catatan terakhir adalah perang kepentingan elite politik lokal yang masing-masing didukung penuh oleh pengusaha-pengusaha besar yang bercokol di Tangsel, seperti tertuang dalam penelitian berjudul "Analisis Evaluasi Otonomi Kota Tangerang Selatan" yang ditulis oleh Aprianus Neston Prabudi Purba, mahasiswa Universitas Indonesia, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik pada 2011 lalu.
Menurut Aprianus, salah satu indikator perang kepentingan itu adalah adanya konflik antar elite politik dalam pengangkatan penjabat wali kota Kota Tangerang Selatan sebagai daerah yang baru dimekarkan.
"Terjadi konflik antar pihak Gubernur Banten dan Bupati Tangerang dalam penunjukan penjabat kepala daerah Kota Tangerang Selatan, karena dalam perkembangannya Gubernur Banten tidak mengusulkan calon-calon yang telah diusulkan berdasarkan pertimbangan Bupati Tangerang," tulis Aprianus dalam penelitiannya.
Selanjutnya, menurut Aprianus, adanya ploting pejabat-pejabat di Tangsel di awal mula terbentuknya Tangsel oleh gubernur Banten kala itu, Ratu Atut Choisiyah, yang kini dikenal sebagai induk dinasti Atut yang menempatkan kerabatnya di pucuk-pucuk pimpinan daerah di Banten. Kuat diduga, hal itu sebagai upaya melanggengkan kekuasaan dinastinya.
"Terjadi mutasi besar-besaran di level elite pejabat pemkot, namun juga di level bawah seperti di kantor kecamatan dan kelurahan, sebanyak 12 kali dalam waktu kurang lebih setahun. Mutasi tersebut adalah mutasi terhebat, terbanyak, dan dapat mendapat penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI)," tulis Aprianus.
Pada dasarnya banyak masalah khas kota urban lain yang ada di Tangsel, seperti sampah, kemacetan dan kesenjangan sosial, namun Itu tadi beberapa persoalan kompleks yang akan dihadapi oleh para calon terpilih dalam Pilwalkot Tangsel 2020 nanti.